Pascasarjanauin07’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Studi al-Qur`an : Teori Makna Teks Al-Qur`an

Posted by pascasarjanauin07 on February 16, 2008

Studi al-Qur`an : Teori Makna Teks Al-Qur`an Pendahuluan Islam sebagai salah satu  agama samawi yang diturnkan Allah SWT untuk memberikan guidande (way of life) dengan diturunkanya wahyu (al-Qur`an) merupakan keniscayaan yang harus disikapi secara imani, tidak seorang Muslim pun meragukan otentitas dan keabsahan kitab suci al-Qur`an sebagai pegangan hidup dan Konsekuensi logisnya, Allah sendiri yang memberikan janji akan pemeliharaan akan keutuhan dan keabsahan kitab suci-Nya. Hal itu terbukti dengan firman-Nya (Q.S. al-Hijir. 15:9). Sebab jika hal tersebut dibiarkan, maka tentu akan mengalami perubahan baik dari segi makna, isi dan otensitas sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman. Tentunya bila hal ini sampai terjadi, kekuatan wahyu sebagai pegangan umat manusia akan rapuh seiring dengan perjalanan zaman dan tuntutan sosial keberagamaan umat manusia. Al-Qur`an dalam wujudnya tampil dengan memenuhi janji pencipta-Nya akan selalu terjaga dari kemungkinan perubahan, walaupun hanya satu teks. [1] Sebagai kitab Suci al-Qur`an selalu menarik untuk menjadi bahan kajian sebagaimana posisi kitab-kitab lain terdahulu yang telah banyak dikaji oleh berbagai peneliti, ilmuan dari penganutnya. Dalam kontek sejarah keberagaman agama lain yang telah melakukan dekontrusksi terhadap kitab suci (scripture) menjadi bagian dari kajian, seperti kajian dalam Bible (Bibel dalam bahasa latin) pada abad kedua SM, begitu pula kajian kitab suci pada  Zoroaster, Weda, Kanon Tibet, teks suci Budha, sampai dengan kitab suci Kristen (Bibel, Injil) maupun tulisan-tulisan kanonik Yahudi (Taurat), merupakan kategori-kategori dari fenomena yang sama dan mengalami puncaknya pada abad 19 M[2] dan begitu pun dalam kalangan Muslim yang menyepakati (Ijma Alaih) tentang al-Qur`an sebagai kitab suci yang mengandung teks (Nash) berupa komunikasi Tuhan kepada Manusia melalui perantara Rasul-Nya. Terlepas dari hal di atas, tentu saja diperlukan pemahaman konprehensif tentang al-Qur`an itu sendiri. Al-Qur`an sebagai sebuah produk komunikasi Tuhan kepada manusia melalui Rasul dengan menggunakan simbol yang bisa dipahami manusia, yaitu bahasa (language). Sebagai sebuah produk komuniksi Tuhan, al-Qur`an mengundang banyak pemikir untuk mengkritisi dan bahkan mendekontruksi. Setidaknya dalam studi banyak kalangan, al-Qur`an ditinjau dari dua aspek, yaitu pembahasan tentang al-Qur`an ditinjau dari text dan al-Quran ditinjau dari kontek. Beberapa peneliti al-Qur`an kontemporer, seperti Toshiko Isutzu, seorang sarjana yang melakukan kajian semantis beberapa konsep al-Qur`an, Nasr Abu zaid, seorang pemikir yang mengunakan pendekatan al-Qur`an dari sudut teks, Angelika Neuwirth, seorang peneliti yang mengedepakan pada konsep al-Qur`an dari prespektif susastra,[3] dan juga pemikir muslim Hasan Hanafi yang melakukan pendekatan al-Qur`an melalui kaidah dasar tafsir yang wajib dipahami sebelum menafsirkan sebuah teks.Memang pada umumnya, status ontologi teks al-Qur`an tidak banyak diulas oleh ulama, al-Qur`an lebih sering ditempatkan dan dipahami dalam definisi etika teologis, yaitu sebagai wahyu Tuhan  yang disampaikan kepada Muhammad SAW melalui malaikai Jibril. Sedangkan menurut etika-lenguistik, al-Qur`an terdiri dari kata, kalimat, paragraf dan tanda baca yang sara makna. Maka dipandang dari aspek ini, teks al-Qur`an setara dan dapat didekati sebagaimana teks-teks lainnya.[4]Dalam tulisan ini, penulis mencoba menelusuri beberapa kerangka berpikir tentang proses pembedahan (kajian kontemporer) terhadap al-Qur`an dari sudut pandang teks secara global dan beberapa teori landasan berpijak dalam menganalisa teks dan serta makna (konten). Kajian ini menarik bagi penulis, setidaknya ada beberapa kepentingan (interest), pertama: Dalam kontek sejarah, dimana teks al-Qur`an lahir pada kurun waktu cukup lama pada zaman kenabian dan jarak yang begitu jauh dengan generasi sekarang (kekinian), sehingga persoalan yang timbul adalah bagaimana generasi sekarang menyikapi teks al-Qur`an dengan jarak yang begitu jauh antara lahirnya teks dengan kekinian dan yang telah mengalami perubahan paradigma dan sentuhan budaya yang sangat berbeda dengan generasi terdahulu mampu menyikapi dan menangkap gagasan yang benar terhadap pemahaman generasi terdahulu (Nabi dan Sahabat) dan hanya diwakili dengan pembacaan teks.Kedua : Teks al-Qur`an dengan daya tariknya yang luar biasa telah melahirkan gagasan penafsiran kekinian dengan menghadirkan beberapa pendekatan. Mengutip dari pembedahan M. Nur Kholis Setiawan[5] tehadap teks, setidaknya ada dua metode, yaitu Hermeneutik dan estetik. Hermeneutik berhubungan dengan pemahaman (verstehen), tentang ilustrasi gambar, teks, ritual, serta manusia sendiri sebagai pencipta teks, sedangkan metode estetis mengedepankan pemahaman penomena yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks (dengan bahasa lain : melihat teks dari sudut kontek), sepadan dengan yang pernah disampaikan oleh Ziauddin Sardar “Teks hanya dapat diapresiasikan dengan utuh, jika dilihat dari konteks”  Teori Makna Teks al-Qur`an : Tinjauan EpistimologisSebelum lebih lanjut melakukan kajian tentang Teori Makna Teks al-Qur`an, terlebih dahulu sangat penting untuk diuraikan satu persatu dari sudut pandang epistimologis, agar pembicaraan dalam tulisan ini lebih pokus dan konprehenship. Memang Tidak terlalu banyak literatur yang ditemukan penulis dalam membedah beberapa kata, yaitu teori, makna, dan teks yang menjadi bahan dalam tulisan ini. Setidaknya ada beberapa literatur yang menjelaskan. Dalam kamus Bahasa Indonesia, Teori mengandung pengertian pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai kejadian dsb ; asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian;pendapat, cara, dan aturan yang melakukan sesuatu. Contoh teori atom; teori yang mengatakan bahwa materi disusun dalam partikel-partikel kecil adalah atom.[6] M. Amin Abdullah mengungkapkan bahwa teori adalah sebuah hipotesa yang sudah mapan, atau satu set hipotesa-hipotesa mengenai fakta-fakta, atau aturan umum tentang alam;atau juga dapat berupa sekumpulan ide-ide, hukum-hukum yang disusun secara sistematis.[7] Makna dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung pengertian arti dan teks mengandung pengertian  naskah berupa kata-kata asli dari pengarang;kutipan dari kitab suci untuk pangkal ajaran. Sedangkan al-Qur`an mengandung arti kitab suci umat Islam.[8] Al-Azami menguatkan pengertian al-Qur`an, yaitu kalamullah, risalah terakhir untuk umat manusia, diwahyukan pada rasul terakhir, Muhammad yang meruang dan mewaktu. Ia terpelihara dari segi keaslian bahasa tanpa perubahan, tambahan maupun pengurangan.[9] Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kajian tentang Teori Makna teks al-Qur`an adalah upaya mengupas tentang pendapat umum tentang pengertian dasar tentang nash al-Qur`an yang merupakan kalamullah. Memahami Tekstalitas al-Qur`anLahirnya makna tidaklah semata-mata berasal dari teks, akan tetapi melalui proses dialektika antara teks dengan manusia sebagai obyek teks, seperti juga yang terjadi dari realasi antara teks dengan kebudayaan sebagai realasi dealektis yang saling menguatkan dan satu sama lain mengkombinasikan dirinya pada saat memunculkan wacana, pemikiran dan idiologi. Akal pikiran manusialah yang melahirkan makna dan berbicara atas nama teks itu sendiri berbicara.[10] Sedangkan kata-kata dalam teks adalah gambaran dan metapora, unungkapan-ungkapan adalah pandangan dan isyarat, kalimat dalam teks adalah simbol yang dinamis, makna yang luas dan signifikasi yang beragam, teks melahirkan makna sesuai dengan kaidah bahasa dan metapora.[11]Pembicaraan tentang teks al-Qur`an sungguh tanpa batas, seiring dengan kekuatan magnet al-Qur`an sebagai kalamullah, bahkan dalam tradisi Arab memberikan prioritas sedemikian rupa terhadap teks al-Qur`an dan mejadikan interpretasi sebagai metode. Sebenarnya kajian tentang konsep teks masuk pada wilayah kajian tentang hakekat dan sifat al-Qur`an sebagai teks bahasa. Ini berarti bahwa mengkaji teks al-Qur`an tidak terlepas pada pemahaman konsep utuh al-Qur`an sebagai Kitab Agung berbahasa Arab dan berbicara tentang bahasa, maka setidaknya masuk dalam wilayah kesusastraan. Maka bila sudah masuk dalam wilayah kesusastraan, kajian akan lebih melahirkan tradisi kesadaran ilmiah dan mengatasi dominasi kepentingan idiologis yang banyak dipegang oleh beberapa kalangan yang menyatakan bahwa kajian terhadap teks al-Qur`an sudah matang dan usai.[12] Pemahaman teks al-Qur`an sendiri bersumber dari fakta bahwa teks al-Qur`an dibentuk oleh peradaban arab pada satu sisi dan pada sisi yang lain berangkat dari konsep-konsep yang diajukan teks itu sendiri mengenai dirinya. Sesungguhnya, pemisahan antara konsep yang dimunculkan teks itu sendiri mengenai dirinya dan fakta teks yang dibentuk oleh peradaban bersifat arbitrer, tetapi pemisahan ini untuk alasan penjelasan tidak bisa dihindari. Maka tidak bisa dielakan bahwa teks merupakan produk budaya. Dengan ungkapan lain bahwa ketika Allah SWT menurunkan wahyu kepada Muhammad dengan memilih sistem bahasa tertentu dalam hal ini bahasa Arab. Pemilihan bahasa tersebut tidak semerta-merta berangkat dari ruang kosong, sebab bahasa adalah perangkat sosial yang paling penting dalam dunia dan berbicara tentang bahasa, sungguh tidak lepas dari kontek budaya. Tentu saja wilayah kajian sudah tertutup pada wilayah pengirim teks (Tuhan), tapi masih terbuka kajian ilmiah terhadap teks yang menjadi bagian dari realitas dan budaya. [13] Bahkan Arqun lebih menekankan peran pentingnya pembacaan sejarah terhadap pemahan teks-al-Qur`an dengan menggunakan pendekatan linguistik, dia menyatakan:“Alih-alih memulai dengan fakta-fakta yang berdiri sendiri-sendiri (fenem, kata, frasa, kalimat), mestilah teks dipertimbangkan dalam keseluruhannya sebagai sistem hubungan-hubungan intern…..Dengan menemukan kembali semua hubungan intern yang membentuk teks al-Qur`an, kita tidak hanya memperhitungkan susunan dan dinamisme yang khas untuk bahasa Arab ; kita menangkap suatu cara berpikir dan merasa, yang benar-benar akan memainkan peran penting dalam sejarah kesadaran Islam”[14] Teks menamakan dirinya dengan nama al-Qur`an, terkait dengan kebudayaan melalui mana teks terbentuk. Akan tetapi pada saat yang sama, teks membedakan dirinya dari kebudayaan yang memilih nama yang tidak umum sama sekali dari sisi format dan kontruksinya. Hal inilah yang menyebabkan banyak ulama memperdepatakan apakan ia dalam pengertian membaca (mengulang-ulang) atau mengumpulkan? Al-Jahizh menangkap bahwa nama-nama yang diberikan oleh teks terhadap dirinya dan bagian-bagiannya, seperti surat, ayat dan fashilah, mempertegas perbedaan teks dengan teks-teks lainnya dalam kebudayaan. Catatan bahwa aspek “kelisanan” teks ketika diterima dan diujarkan terkait erat dengan kebudayaan, tetapi dia berbeda dari kebudayaan dalam memilih nama-nama yang menunjuk pada bagiannya.[15]

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses pemahaman dan penafsiran sebuah teks, faktor subjektifitas pembaca menjadi sangat berperan. Ketika teks hadir di depan pembaca, maka teks menjadi berbunyi dan berkomunikasi hanya ketika ia membacanya dan membangun makna berdasarkan system tanda yang ada. Jadi, makna itu ada dalam teks, dalam otak pengarang dan dalam benak pembacanya. Namun demikian, pada saat yang bersamaan tuntutan kearah objektifisme dalam memahami teks menjadi sebuah keharusan, sebab subjektifisme semata dalam memahami teks akan melahirkan watak “relatifisme” yang apabila berkembang lebih jauh tanpa koridor yang jelas akan melahirkan watak “ nihilisme”.[16]

Kata Qur`an sebanyak empat belas kali didahului dengan kata tunjuk hadzal Qur`an. Ungkapan ini dengan jelas menunjukan al-Qur`an sebagai teks definitif yang terbaca dan bisa dipahami. Kata Qur`an dalam beberapa ayat[17] merupakan obyek langsung kata kerja (masdar) “Qara`a”, sedang disebuah ayat (27:92), merupakan obyek kata kerja “tala” dan dilain ayat, yakni ayat pertama turunnya al-Qur`an (73:4) sebagai obyek dari kata kerja “ratala”.  Selain al-Qur`an sebagai teks bacaan, juga menunjuk pada sebuah aktivitas membaca. Pemaknaan ini dapat dilihat dalam surat (72:1-2;55:2;36:69).Dengan demikian, ayat di atas secara bersamaan menegaskan bahwa al-Qur`an sebagai teks bacaan Qur`an terdapat arti penting, yaitu: (1) pembacaan kalam Qur`an dalam hal ini kata Qur`an memiliki arti yang sama dengan tilawah; (2) Qur`an juga dapat dimaknai sebagai wahyu yang terbaca; dan (3) bagian al-Qur`an yang diturunkan sehingga orang bisa membacanya, kadang juga dipakai kata “ayat” dan kata “surat” (Norkholis 59)Kata lain dari Qur`an juga sering digunanakan adalah kata “kalam” (kalamullah). Kata kalam sendiri berasal dari kata “k-l-m” dan sering dirangkai dengan kata “Allah”. Ada beberapa ayat yang menyebutkan, diantaranya terdapat dalam surat 48:15;9:6;2:75. Pengembangan kata “kalam” lain dalam al-Qur`an ada duapuluh delapan berbentuk kalimah, delapan kali berbentuk kalima; satu kali kalam; satu kali kalimatuna; dan enam kali kalimatihi. Dalam kontek pembicaraan al-Qur`an, kata kalam dalam tiga ayat, semuanya mengacu pada Tuhan dan dapat dikatakan wahyu Tuhan. Hal ini didasarkan pada interpretasi mufasir yang menggunakan analisis grametikal, seperti mufassir Ibn Abbas (bapak tafsir w. 68 H/687M), Ibn Jiyad al-Farra (w.210 H/825 M), al-Zamaksyari (w.538 H/1143 M), Abu Hayyan al-Andalusi (w.754 H/1353 M)[18]    



[1] Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban, (Jakarta : Paramadina, 2000), hal.3. Kontek persoalan yang terkait dengan otentitas al-Qur`an, terutama dalam kaitannya dengan proses kodifikasi al-Qur`an yang banyak dikenal mushaf yang beredar adalah mushaf Utsmani, maka diperlukan studi melihat kembali kemungkinan adanya mushaf lain.

[2] Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Paramadina, 1996),  hal. 22.

[3] M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur`an Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta : eLSAQ Press, 2006), hal. 52.

[4] Hilman Latif, Op.Cit. 86

[5] Ibid, hal. 53

[6] Umi Chulsum dan Windy Novia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya : Yoshiko Press, 2006), hal. 654.

[7] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta : Pusata Pelajar, 2006), hal. 41

[8] Umi Chulsum dan Windy Novia, Op.Cit.

[9] Al-Azami. Sejarah Teks Al-Qur`an Dari Wahyu Sampai Kompilasi, Kajian Perbandingan Dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, (Jakarta : Gema Insani Press, 2005), Edisi Terjemah, hal. 13.

[10] Hilman Latif, Hermeneutika Al-Qur`an Mazhab Yogya, (Yogyakarta : Islamika, 2003), hal. 90

[11] Ali Harb, Hermeneutika Kebenaran, (Yogyakarta : LKiS, 2003), hal. 31

[12] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur`an Kritik Terhadap Ulumul Qur`an, (Yogyakarta : LKiS, 2002), edisi terjemah, hal. 50.

[13] Ibid, hal. 19

[14] M. Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur`an, (Jakarta : Perpustakaan Nasional, 1997) edisi terjemah, hal. 51

[15] Nasr Hamid Abu Zaid, Op.Cit.,hal. 57

[16]  Ilyas Supena. “Objektivisme dan Subjektifisme Pemahaman Al-Qur’an” Justisia, Edisi 24 Tahun XI 2003, hal 97

[17] Beberapa ayat tersebut secara definitif ada lima ayat, yaitu terdapat dalam (73:20;17:45;106;84:21;16:98)

[18] Abu Hayyan al-Andalusi mengemukakan definisi “kalam” sebagai ungkapan yang mem berikan pentunjuk aka adaya relasi terhadap sesuatu yang dimaui atau yang dimaksud oleh si pengajar (al-kalamu hua al-qaulu ad-dallu ala nisbatin isnadiyyatin maqsudatin lidzatiha) dan menegaskan dalam kontek ini bahwa “kalam” berarti wahyu Allah yang diturunkan pada Nabi Musa dan Nabi Muhammad sebagai utusannya. Abu Hayyan berangkat pada kontek pembicaraan  ayat sebelumnya ayat 75 surat al-Baqarah tersebut, yakni perbincangan tengan karakter-karakter Yahudi. Abu Hayyan dalam hal ini sangat mempertimbangkan aspek lokalitas dalam pengertian keterkaitan perbincangan satu obyek tertentu dalam rangkaian ayat-ayat terdekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: